Sekarang ini musik kristen terbagi menjadi dua. Hymn dan kontemporer. Hymn cenderung terkesan dengan suasana yang tidak bersemangat dan terkesan kolot. Hymn juga sangat didekatkan pada musik yang berat, notasinya cukup sulit dan kadang sulit dimengerti apalagi dinikmati, sehingga membentuk image bahwa hymn adalah lagu yang kuno. Sedangkan musik kristen kontemporer cenderung terkesan dengan suasana penuh semangat. Musiknya mudah dimengerti dan dinikmati, sehingga kadang kita bisa sangat terbawa dengan lagu tersebut.
Ini adalah beberapa poin yang saya dapat dari pengamatan saya akan musik kristen kontemporer. Banyak sekali sebenarnya bila dijabarkan satu-persatu, namun untuk saat ini saya hanya ingin menjabarkan poin-poin yang menurut saya penting.
1. Manja : Penilaian ini saya berikan melalui pengamatan pada lirik lagu kristen kontemporer. Banyak sekali ajaran-ajaran tentang teologi kesuksesan. Dan saya jelas sangat menentang ajaran ini. Kata-kata yang berisi teologia kesuksesan ini membentuk orang kristen menjadi orang kristen yang manja. Ini juga membuat saya sedih, kalau kita menjadi orang yang manja kapan kita bisa mandiri, apalagi menjadi teladan. Yang diajarkan lagu kristen kontemporer adalah hanya meminta tanpa ada tindakan lanjutan. Coba anda perhatikan , jarang ada lirik tentang respon terhadap Firman Allah.
2. Egois : Coba anda lihat kembali lirik-lirik pada lagu kristen kontemporer. Lagu-lagu kristen kontemporer banyak sekali yang menjadikan diri sendiri (aku) sebagai subjek pertama, sudah jarang sekali lagu kristen kontemporer yang menjadikan Tuhan sebagai subjek, dan sudah jarang juga yang menjadikan komunitas {gereja atau lagu dengan subjek kami} sebagai subjek utama. Dari pengamatan yang saya lakukan pada buku lagu kumpulan lagu-lagu kristen kontemporer, setidaknya 70% isi dari buku tersebut adalah aku sebagai subjek utamanya. Ini dikarenakan lagu kristen kontemporer banyak dibuat berdasarkan pengalaman pribadi sang pembuat lagu. Sungguh hal yang menyedihkan jika lagu-lagu dengan subjek aku ini terlalu banyak dinyanyikan dalam sebuah komunitas gereja. Sudah jelas gereja adalah komunitas, bayangkan apa yang terjadi jika gereja terlalu banyak menggunakan lagu tersebut. Menurut saya gereja akan kehilangan maknanya sebagai sebuah komunitas, karena orang-orang didalamnya sibuk memikirkan dan menikmati diri sendiri. Jadi tidak heran jika sekarang orang kristen terpecah-pecah, lihat saja dalam satu kompleks ada berapa banyak gereja, tidak adakah keinginan untuk bersatu? Lalu apa bedanya kita dengan orang lain, coba pikir out-of-the-box bagaimana orang lain melihat kekristenan yang terpecah-pecah, apa orang Kristen sudah jadi teladan kalau seperti itu?
3. Terlalu dipengaruhi oleh bisnis : Saya sungguh kecewa melihat sekarang lagu kristen merupakan sumber mata pencaharian uang. Lihat sendiri di toko-toko lagu kristen berapa banyak ’artis’ [saya tidak setuju dengan istilah ini] yang mengeluarkan albumnya hampir setiap tahun. Hal ini akan berpengaruh sangat buruk, bagaimana dapat menciptakan lagu yang baik jika setiap tahun dikejar dead-line untuk mengeluarkan album, bahkan kalau sudah ada kontrak akan lebih menyedihkan = anda mengambil uang dari Tuhan. Tidak heran jika lagu-lagu kontemporer kristen sekarang kata-katanya banyak yang mengulang, perhatikan sendiri hanya berputar-putar pada bersyukurlah, Allah yang baik, kecaplah, lihatlah, rasakan, bermazmur. Musik yang adapun tidak heran jika juga mengulang-ngulang yang sudah ada. Tidak Kreatif.
Poin ini lebih saya tujukan pada musik dari lagu kristen kontemporer. Sekarang coba saya tanya anda, apa yang anda pikirkan ketika anda mendengar lagu kristen kontemporer? Apa yang membedakannya dengan lagu biasa? Jika anda sudah menjawab apa yang anda pikirkan, sekarang saya mau mengajak anda untuk out of the box apa yang orang lain pikirkan ketika melihat lagu-lagu orang kristen sama dengan lagu biasa. Sedangkan orang kristen diibaratkan sebagai orang yang berbeda dengan yang lain. Sungguh suatu hal yang ironis dan mungkin inilah yang harusnya menjadi tantangan musisi kristen masa kini. Yang saya lihat musik kristen kontemporer tidak mengekspresikan apa-apa melalui nada. Jika saya menutup mata mendengarkan lagu kristen dan lagu kontemporer (tanpa memperhatikan lirik) saya tidak merasakan perbedaan.

samuel4121994 berkata,
Agustus 26, 2008 pada 10:36 am
Anda menyalin ulang semua apa yg saya tulis. Tolong berikan sumbernya http://www.samuelchristiantjahyadi.co.nr atau hapus post anda