Designet
“Being an Industrial Designer”…Catatan Seorang Freelancer Bagian 1
Tadi pagi saya di telpon teman saya kerja dulu, Febiamona, dan dia nanya disela obrolan pagi tadi, “lagi ngapain lo? masih freelance?”…
Terkadang saya suka bertanya, mengapa saya berani menjadi seorang freelancer? Padahal jika mengingat sebelumnya saya hanya baru berkerja sekali pada satu perusahaan saja, Dedato Indonesia, selama lima tahun saja. Suatu rentang waktu yang cukup lama bagi beberapa orang, untuk menetap, tapi sebentar sekali rasanya untuk pengalaman berkerja, menurut saya pribadi.
Jawabanya ada dua kemungkinan, saya jenuh berkerja pada satu tempat saja. Dan kedua karena saya lulus dari institut yang menghasilkan genre orang-orang yang sok tahu, sok percaya diri, Institut Teknologi Bandung.
Jenuh berkerja, bukanlah jawaban yang 100% tepat dalam hal ini, kalau dipikir lebih jauh. Berkerja sebagai seorang desainer murni, bukan lah art director diperiklanan, sangat mengasyikan rasanya. Terlebih lagi karena saya membangun suatu divisi yang “baru” di kantor saya, dan mungkin juga di Jakarta. Dan kantor yang tepat, yang saya sesali mengapa ketika lulus langsung diterima disitu, Dedato, yang merupakan suatu kantor yang komplit, karena memiliki (hampir) semua jurusan/divisi dalam ilmu desain ini.
Dedato sendiri memiliki divisi interior dan arsitektur didalamnya, yang kemudian saya kembangkan dengan divisi industrial design dan grafis di kemudian hari.
Karena memiliki divisi yang lengkap ini, saya mempunyai kesempatan untuk belajar menghargai dan akhirnya jatuh cinta dengan divisi lainnya. Dan karena prinsip yang dijalankan kantor ini adalah integrasi semua sub ilmu desain dalan mengerjakan suatu proyek, jika proyek itu memungkinkan tentunya, jadi seringkali saya ikut serta mengerjakan proyek dalam bidang yang bukan saya kuasai sepenuhnya, hingga berakhir dengan saya mengerjakan juga kerjaan arsitektural dan interior. Dan bisa kalian lihat dari portfolio yang saya kerjakan disini.
Waktu saya bergabung dengan mereka pertama kali, kantor ini sangat buta teknologi, saya harus merequest benda-benda pendukung untuk berkerja, seperti scanner misalnya. Dan itupun tidak langsung mereka kabulkan permintaan saya ini, sehingga membuat saya sebal, dan harus menenteng-nenteng scanner saya dari rumah, hanya untuk membuktikan kalau mereka memang membutuhkan benda ini. Hingga saya rela mengotongnya naik bis dari rumah. Dan setelah dikabulkan, sempat mendapat tatapan sirik dari divisi lainnya, padahal scanner ini saya peruntukan juga untuk divisi lainnya. Begitu pula dengan pentingnya membeli CD writer. Sehingga terpaksa saya meminta anak magang yang kebetulan punya alat ini dirumah, untuk membawanya ke kantor.
Seiring berjalannya waktu, saya melihat bahwa divisi grafis juga dibutuhkan oleh kantor ini, karena menurut saya, perkerjaan interior, dan arsitektur, perlu adanya sentuhan grafis didalamnya. Repotnya cuma satu, tidak ada satupun desainer di sini yang memiliki latar belakang bidang grafis di Dedato. Jadi karena saya yang berteriak-teriak disana, dan kebetulan saya memang punya hubungan cinta dengan grafis (saya dulu pingin sekali masuk studio grafis, tapi terbuang ke produk, karena sistem pembagian jatah mahasiswa ITB yang sangat konyol itu) saya jalan terus, membuat divisi grafis, yang saya masukan di divisi saya ini, hingga menjadi divisi Industrial & Graphic namanya. Dan dikemudian hari mereka mendapatkan lulusan grafis yang cukup kompeten untuk saya serahi jabatan saya ini.
Jadi bukan berkerja sebagai desainer inilah yang membuat saya mungkin jenuh. Tapi lebih kearah tidak sukaan saya atas ketergantungan mereka kepada saya. Mengapa? Kok jumawa sekali rasanya?
Karena sejak saya masuk kesana, saya selalu kritis dengan cara kerja kantor dalam mendesain, bukan out put-nya, tapi lebih kearah konsepsi desain yang saya rasakan sangat amat kurang perhatiannya. Jadilah saya berusaha membuat konsep dengan argumentasi yang kuat bagi semua desain yang saya buat, dan dilihat oleh sang owner (cabang Jakarta, karena kantor ini sebenarnya berpusat di Amsterdam, Belanda) dan ditimpakanlah saya tugas untuk mengurusi semua konsep desain kantor, tidak hanya desain Industrial Design semata. Bah!, capek memang, tetapi saya tidak merasa terlalu berat mengerjakannya, karena saya merasa mendapat tantangan untuk semakin belajar lagi, mengingat beragamnya proyek yang ada, dan senangnya, kantor ini rada royal dalam membeli buku design, jadi saya senang saja mempelajari hal-hal baru.
Setelah tiga tahun disana saya melihat, wah ini berbahaya kalau tetap saya sendiri yang mengerjakannya. Karena yah itu, jadi adanya ketergantungan teman-teman lainnya kepada saya, walaupun dalam membuat konsep saya selalu bertanya dan mengajak mereka duduk bersama. Karena toh tahu apa saya akan ilmu yang mereka pelajari di universitas dulu.
Lebih parahnya lagi, tiba-tiba saya ditodong untuk menjadi business development kantor, bersama para senior lainnya. Lah ini bagaimana? Desain saja saya rasa kita belum cukup kuat konsepsinya, kalau saya tinggal, kalu dari segi output (nee styling) sih bagus, tapi kalau cuma kulitnya yang bagus tapi isinya acak-acakan? Mau jadi apa?
Karena sayangnya teman-teman saya sepertinya clueless kalau tidak saya pantau, sehingga sering saya tegor, “eh…ini kan bidang kalian, gue kan nggak sejago kalian dong seharusnya disini…”. Dan saya tetap dijebloskan ke dalam dunia business development. Ya sudah saya jalankan dulu, tanpa melepas jabatan saya sebagai head Industrial Design disana (hasil dari bargain saya ke boss saya itu).
Dan ternyata perang badar saya tetap berlanjut di sana, karena “hello!” (mengambil istilah pacar saya kalau kesal ke client) kok business development begini isi meetingnya. Dan mulailah saya menstruktur pola kerja dan pola pencarian proyek kantor. Apa maksudnya? Saya harus membuat base cara Dedato melihat peluang, dengan cara mengukur kemampuan diri mereka sendiri. Bagaiman bisa mengambil suatu proyek tanpa melihat kesangupan diri sendiri, baik dari segi kemampuan mengerjakan proyek, traffic, dan kemampuan ilmu sendiri. Bukannya menyerah atas dasar kemampuan mendesain, tapi lebih kearah kesiapan mental, dan loading perkerjaan perkomponen kerja. Dan mulailah saya marah-marah kembali dikantor saya ini.
Dan kalau marah saya tidak peduli kalau yang saya marahin itu siapa, mau senior, mau teman seangkatan, sampai owner perusahaan pun kalau perlu saya “marahin”, dan ini pernah terjadi saya memarahi owner saya, mentor saya sebenarnya, selama dua jam, setelah saya tarik ke taman belakang kantor, waktu jam kerja hehehehe. Karena saya ketika baru masuk ditanya “Put kamu orangnya bagaimana sebenarnya?” oleh boss saya itu, Pak Taufik, yang saya langsung jawab…”kalau saya salah, dan benar-benar salah, saya pasti akan mengaku dan menerima. Tapi kalau saya benar, tapi dianggap salah, saya akan tidak terima”. Jadi saya merasa lumrah kalau saya bisa marah kedia, atau siapapun, kalau saya memang benar.
Belagu? Mungkin…nah ini juga alasan kedua dari mengapa di awal tulisan ini saya menaruh almamater saya sebagai kambing hitam di keputusan saya untuk ber-freelance ria. Karena saya tidak takut untuk berdebat, bukan kusir tentunya. Karena buat saya, kampus saya itu tidak terlalu berguna dalam mengasah kemampuan desain saya (dan mungkin juga kalian yang merasa jebolan kampus ini), tapi kemampuan untuk beragumentasi, yang didasari fakta/data penguat itulah yang saya rasakan guna dari berkuliah di ITB dulu.
Dan pelajaran ini tidaklah saya terima dari dosen-dosen saya, tapi dari kawan-kawan seperjuangan saya di studio, senior-senior yang kritis, ketika mereka menjadi asisten mahasiswa studio saya, salah satunya Aso dan Tita. Karena yang paling mengerikan ketika saya mepresntasikan tugas di studio saya dulu, bukan pendapat dosen yang saya takuti, tapi “serangan” pertanyaan-bantahan dari kawan-kawan saya lah yang saya takuti. Dan ujung-ujungnya saya serang balik ketika mereka presentasi, sekali lagi serangan yang bukan sifatnya penuh dendam dan berujung ke debat kusir tentunya.
Dan karena biasa beragumen sejak kuliah, akhirnya terbawa hingga berkerja, sampai-sampai boss saya sempat keluar dari ruangannya karena tidak tahan berdebat tentang desain dengan saya dan Reza, head divisi grafis waktu itu (yang merupakan partner mendebat ketidak beresan kantor). Dan ini juga menjadi alasan saya untuk, ayo, ini (sudah) waktunya keluar dari sini, dan kayaknya kamu bisa survive dengan diri kamu sendiri, sampai kamu menemukan pelabuhan baru lagi.
Dan setelah akhirnya mengambil jatah cuti saya, untuk “kabur”dari kesemerawutan di kantor, ke Koto Gadang, Sumatra Barat, karena saya tidak pernah mengambil jatah cuti sekalipun selama 5 tahun disana, saya semakin bulat bertekad, ini sudah waktunya, dan bayi yang saya lahirkan sekarang (divisi saya ini) sudah bisa berjalan, walaupun masih tertatih-tatih.
Dan keluarlah saya dari sana…
Tapi saya tetap mengangap seorang Taufik Ibrahim sebagai mentor saya, karena dari awal ia menerima saya dia bertanya, disela-sela makan siang, seminggu setelah saya berkerja di Dedato “Kamu dua tahun lagi mau ngapain?” dan saya jawab, “saya mau punya Dedato saya sendiri…pak”
“ok nanti saya bantu kamu…”
Dan saya belajar mencintai desain sepenuh hati bersamanya.

