Agustus 25, 2008 at 12:06 pm (Musik)

“Gamelan”, versi aslinya ada di sini

Gamelan jelas bukan musik yang asing. Popularitasnya telah merambah berbagai benua dan telah memunculkan paduan musik baru jazz-gamelan, melahirkan institusi sebagai ruang belajar dan ekspresi musik gamelan, hingga menghasilkan pemusik gamelan ternama. Pagelaran musik gamelan kini bisa dinikmati di berbagai belahan dunia, namun Yogyakarta adalah tempat yang paling tepat untuk menikmati gamelan karena di kota inilah anda bisa menikmati versi aslinya.

Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa, sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.

Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan, rebab, tepukan ke mulut, gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan, musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang, dan tarian. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.

Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik, diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang, rebab dan celempung, gambang, gong dan seruling bambu. Komponen utama yang menyusun alat-alat musik gamelan adalah bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan, misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending.

Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog. Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yaitu terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.

Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri, musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer. Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazz-gamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis.

Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. Pada hari Kamis pukul 10.00 – 12.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit, sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. Untuk melihat pertunjukannya, anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua, anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Agustus 25, 2008 at 12:04 pm (Musik)

Musik Kontemporer dengan Musik Hymn

24 08 2008

Sekarang ini musik kristen terbagi menjadi dua. Hymn dan kontemporer. Hymn cenderung terkesan dengan suasana yang tidak bersemangat dan terkesan kolot. Hymn juga sangat didekatkan pada musik yang berat, notasinya cukup sulit dan kadang sulit dimengerti apalagi dinikmati, sehingga membentuk image bahwa hymn adalah lagu yang kuno. Sedangkan musik kristen kontemporer cenderung terkesan dengan suasana penuh semangat. Musiknya mudah dimengerti dan dinikmati, sehingga kadang kita bisa sangat terbawa dengan lagu tersebut.
Ini adalah beberapa poin yang saya dapat dari pengamatan saya akan musik kristen kontemporer. Banyak sekali sebenarnya bila dijabarkan satu-persatu, namun untuk saat ini saya hanya ingin menjabarkan poin-poin yang menurut saya penting.
1. Manja : Penilaian ini saya berikan melalui pengamatan pada lirik lagu kristen kontemporer. Banyak sekali ajaran-ajaran tentang teologi kesuksesan. Dan saya jelas sangat menentang ajaran ini. Kata-kata yang berisi teologia kesuksesan ini membentuk orang kristen menjadi orang kristen yang manja. Ini juga membuat saya sedih, kalau kita menjadi orang yang manja kapan kita bisa mandiri, apalagi menjadi teladan. Yang diajarkan lagu kristen kontemporer adalah hanya meminta tanpa ada tindakan lanjutan. Coba anda perhatikan , jarang ada lirik tentang respon terhadap Firman Allah.
2. Egois : Coba anda lihat kembali lirik-lirik pada lagu kristen kontemporer. Lagu-lagu kristen kontemporer banyak sekali yang menjadikan diri sendiri (aku) sebagai subjek pertama, sudah jarang sekali lagu kristen kontemporer yang menjadikan Tuhan sebagai subjek, dan sudah jarang juga yang menjadikan komunitas {gereja atau lagu dengan subjek kami} sebagai subjek utama. Dari pengamatan yang saya lakukan pada buku lagu kumpulan lagu-lagu kristen kontemporer, setidaknya 70% isi dari buku tersebut adalah aku sebagai subjek utamanya. Ini dikarenakan lagu kristen kontemporer banyak dibuat berdasarkan pengalaman pribadi sang pembuat lagu. Sungguh hal yang menyedihkan jika lagu-lagu dengan subjek aku ini terlalu banyak dinyanyikan dalam sebuah komunitas gereja. Sudah jelas gereja adalah komunitas, bayangkan apa yang terjadi jika gereja terlalu banyak menggunakan lagu tersebut. Menurut saya gereja akan kehilangan maknanya sebagai sebuah komunitas, karena orang-orang didalamnya sibuk memikirkan dan menikmati diri sendiri. Jadi tidak heran jika sekarang orang kristen terpecah-pecah, lihat saja dalam satu kompleks ada berapa banyak gereja, tidak adakah keinginan untuk bersatu? Lalu apa bedanya kita dengan orang lain, coba pikir out-of-the-box bagaimana orang lain melihat kekristenan yang terpecah-pecah, apa orang Kristen sudah jadi teladan kalau seperti itu?
3. Terlalu dipengaruhi oleh bisnis : Saya sungguh kecewa melihat sekarang lagu kristen merupakan sumber mata pencaharian uang. Lihat sendiri di toko-toko lagu kristen berapa banyak ’artis’ [saya tidak setuju dengan istilah ini] yang mengeluarkan albumnya hampir setiap tahun. Hal ini akan berpengaruh sangat buruk, bagaimana dapat menciptakan lagu yang baik jika setiap tahun dikejar dead-line untuk mengeluarkan album, bahkan kalau sudah ada kontrak akan lebih menyedihkan = anda mengambil uang dari Tuhan. Tidak heran jika lagu-lagu kontemporer kristen sekarang kata-katanya banyak yang mengulang, perhatikan sendiri hanya berputar-putar pada bersyukurlah, Allah yang baik, kecaplah, lihatlah, rasakan, bermazmur. Musik yang adapun tidak heran jika juga mengulang-ngulang yang sudah ada. Tidak Kreatif.

Poin ini lebih saya tujukan pada musik dari lagu kristen kontemporer. Sekarang coba saya tanya anda, apa yang anda pikirkan ketika anda mendengar lagu kristen kontemporer? Apa yang membedakannya dengan lagu biasa? Jika anda sudah menjawab apa yang anda pikirkan, sekarang saya mau mengajak anda untuk out of the box apa yang orang lain pikirkan ketika melihat lagu-lagu orang kristen sama dengan lagu biasa. Sedangkan orang kristen diibaratkan sebagai orang yang berbeda dengan yang lain. Sungguh suatu hal yang ironis dan mungkin inilah yang harusnya menjadi tantangan musisi kristen masa kini. Yang saya lihat musik kristen kontemporer tidak mengekspresikan apa-apa melalui nada. Jika saya menutup mata mendengarkan lagu kristen dan lagu kontemporer (tanpa memperhatikan lirik) saya tidak merasakan perbedaan.

Permalink 1 Komentar

WMAPlus! 1.20, Mainkan Beragam File Musik di Ponsel

Agustus 25, 2008 at 12:02 pm (Musik)

WMAPlus! 1.20, Mainkan Beragam File Musik di Ponsel

Senin, 25 Agustus 2008 | 09:13 WIB Banyak ponsel Symbian versi lama yang tidak bisa memutar file musik. Padahal saat ini, hampir semua ponsel Cina yang membanjiri pasar bisa memutar musik dengan baik. Tak usah iri. Dengan sedikit usaha, ponsel tua Anda bisa juga memutar lagu-lagu dengan format yang sekarang populer,

Aplikasi Symbian bernama WMAPlus! ini bisa memutar berbagai format lagu populer, seperti WMA alias Window Media Audio. Format musik lain juga didukung, seperti mp3, ogg, aac, mp4, m4a, amr and mid.

Ukuran file musik WMA ini cukup ramping. WMA kini makin populer sebagai file musik karena dengan ukuran lebih kecil, WMA memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan MP3 pada bitrate rendah, misalnya 64 kbps. Untuk bitrate lebih tinggi, tidak ada perbedaan nyata antara file WMA dan MP3. Artinya, Anda bisa menyimpan lagu lebih banyak di memori, dengan kualitas yang sama.

Fitur WMAPlus! lainnya cukup berguna, misalnya menu yang mudah digunakan (user friendly), playlist yang lengkap, mendukung pilihan Skin. Untuk urutan lagu, bisa diputar secara random atau berulang.

File WMA juga bisa diatur sebagai ringtone. Musik juga bisa diperkuat lewat kontrol gain dengan pilihan -24db, -18db, -12db, +6db, dan +12db. Yang lebih asyik, lagu bisa dipancarkan lewat bluetooth dan didengarkan lewat headset Bluetooth.

Inilah Caranya
1. Begitu diaktifkan, lakukan pengaturan setting lewat Options>Options>Codecs. Lewat Modify, pastikan setiap file yang muncul di menu sudah memiliki Codecs yang aktif. Dengan demikian file musik bisa diputar, yaitu file OGG, MP3, WMA, AAC, MP4, M4A, MID, dan AMR.

2. Masukkan file lagu ke ponsel, bisa di memori ponsel atau memori eksternal. Lalu pilih Options>Operations>Find new Files untuk mencari lagu. Tunggu beberapa saat, WMAPlus akan memunculkan file lagu di ponsel di mana pun file disimpan. Pilih lagu yang diinginkan dan tekan OK di tombol navigasi untuk menikmati lagu.

3. Agar mudah saat diputar, daftar lagu bisa dikelompokkan berdasar penyanyi, jenis album, atau foldernya. Ini agar dari koleksi lagu yang banyak itu, tidak perlu lagi dipilah mana lagu yang akan didengarkan saat sedang sedih, saat kerja atau saat merenung.

4. Saat memainkan lagu, urutannya bisa diatur agar diputar secara acak (random) atau diulang (repeat) untuk lagu favorit.

Nah, kumpulan lagu siap dinikmati. Geser tombol navigasi ke kanan untuk menambah volume.

INFORMASI:
Nama: WMAPlus!
Ponsel: Nokia 3230/3600/3650/3660/3620/6260/6600/6620/6630/6670/6680/6681/ 6682/7610/7650/N-Gage/N-Gage QD/N70/N72/N90, Panasonic X800/X700, Samsung SGH-D700/SGH-D710/SGH-D720/SGH-D730, Siemens SX1
Harga: 12,49 poundsterling
Download: http://wmaplus.en.softonic.com/symbian/download

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Designet

Agustus 25, 2008 at 11:59 am (Concept)

“Being an Industrial Designer”…Catatan Seorang Freelancer Bagian 1

Tadi pagi saya di telpon teman saya kerja dulu, Febiamona, dan dia nanya disela obrolan pagi tadi, “lagi ngapain lo? masih freelance?”…

Terkadang saya suka bertanya, mengapa saya berani menjadi seorang freelancer? Padahal jika mengingat sebelumnya saya hanya baru berkerja sekali pada satu perusahaan saja, Dedato Indonesia, selama lima tahun saja. Suatu rentang waktu yang cukup lama bagi beberapa orang, untuk menetap, tapi sebentar sekali rasanya untuk pengalaman berkerja, menurut saya pribadi.

Jawabanya ada dua kemungkinan, saya jenuh berkerja pada satu tempat saja. Dan kedua karena saya lulus dari institut yang menghasilkan genre orang-orang yang sok tahu, sok percaya diri, Institut Teknologi Bandung.

Jenuh berkerja, bukanlah jawaban yang 100% tepat dalam hal ini, kalau dipikir lebih jauh. Berkerja sebagai seorang desainer murni, bukan lah art director diperiklanan, sangat mengasyikan rasanya. Terlebih lagi karena saya membangun suatu divisi yang “baru” di kantor saya, dan mungkin juga di Jakarta. Dan kantor yang tepat, yang saya sesali mengapa ketika lulus langsung diterima disitu, Dedato, yang merupakan suatu kantor yang komplit, karena memiliki (hampir) semua jurusan/divisi dalam ilmu desain ini.

Dedato sendiri memiliki divisi interior dan arsitektur didalamnya, yang kemudian saya kembangkan dengan divisi industrial design dan grafis di kemudian hari.

Karena memiliki divisi yang lengkap ini, saya mempunyai kesempatan untuk belajar menghargai dan akhirnya jatuh cinta dengan divisi lainnya. Dan karena prinsip yang dijalankan kantor ini adalah integrasi semua sub ilmu desain dalan mengerjakan suatu proyek, jika proyek itu memungkinkan tentunya, jadi seringkali saya ikut serta mengerjakan proyek dalam bidang yang bukan saya kuasai sepenuhnya, hingga berakhir dengan saya mengerjakan juga kerjaan arsitektural dan interior. Dan bisa kalian lihat dari portfolio yang saya kerjakan disini.

Waktu saya bergabung dengan mereka pertama kali, kantor ini sangat buta teknologi, saya harus merequest benda-benda pendukung untuk berkerja, seperti scanner misalnya. Dan itupun tidak langsung mereka kabulkan permintaan saya ini, sehingga membuat saya sebal, dan harus menenteng-nenteng scanner saya dari rumah, hanya untuk membuktikan kalau mereka memang membutuhkan benda ini. Hingga saya rela mengotongnya naik bis dari rumah. Dan setelah dikabulkan, sempat mendapat tatapan sirik dari divisi lainnya, padahal scanner ini saya peruntukan juga untuk divisi lainnya. Begitu pula dengan pentingnya membeli CD writer. Sehingga terpaksa saya meminta anak magang yang kebetulan punya alat ini dirumah, untuk membawanya ke kantor.

Seiring berjalannya waktu, saya melihat bahwa divisi grafis juga dibutuhkan oleh kantor ini, karena menurut saya, perkerjaan interior, dan arsitektur, perlu adanya sentuhan grafis didalamnya. Repotnya cuma satu, tidak ada satupun desainer di sini yang memiliki latar belakang bidang grafis di Dedato. Jadi karena saya yang berteriak-teriak disana, dan kebetulan saya memang punya hubungan cinta dengan grafis (saya dulu pingin sekali masuk studio grafis, tapi terbuang ke produk, karena sistem pembagian jatah mahasiswa ITB yang sangat konyol itu) saya jalan terus, membuat divisi grafis, yang saya masukan di divisi saya ini, hingga menjadi divisi Industrial & Graphic namanya. Dan dikemudian hari mereka mendapatkan lulusan grafis yang cukup kompeten untuk saya serahi jabatan saya ini.

Jadi bukan berkerja sebagai desainer inilah yang membuat saya mungkin jenuh. Tapi lebih kearah tidak sukaan saya atas ketergantungan mereka kepada saya. Mengapa? Kok jumawa sekali rasanya?

Karena sejak saya masuk kesana, saya selalu kritis dengan cara kerja kantor dalam mendesain, bukan out put-nya, tapi lebih kearah konsepsi desain yang saya rasakan sangat amat kurang perhatiannya. Jadilah saya berusaha membuat konsep dengan argumentasi yang kuat bagi semua desain yang saya buat, dan dilihat oleh sang owner (cabang Jakarta, karena kantor ini sebenarnya berpusat di Amsterdam, Belanda) dan ditimpakanlah saya tugas untuk mengurusi semua konsep desain kantor, tidak hanya desain Industrial Design semata. Bah!, capek memang, tetapi saya tidak merasa terlalu berat mengerjakannya, karena saya merasa mendapat tantangan untuk semakin belajar lagi, mengingat beragamnya proyek yang ada, dan senangnya, kantor ini rada royal dalam membeli buku design, jadi saya senang saja mempelajari hal-hal baru.

Setelah tiga tahun disana saya melihat, wah ini berbahaya kalau tetap saya sendiri yang mengerjakannya. Karena yah itu, jadi adanya ketergantungan teman-teman lainnya kepada saya, walaupun dalam membuat konsep saya selalu bertanya dan mengajak mereka duduk bersama. Karena toh tahu apa saya akan ilmu yang mereka pelajari di universitas dulu.

Lebih parahnya lagi, tiba-tiba saya ditodong untuk menjadi business development kantor, bersama para senior lainnya. Lah ini bagaimana? Desain saja saya rasa kita belum cukup kuat konsepsinya, kalau saya tinggal, kalu dari segi output (nee styling) sih bagus, tapi kalau cuma kulitnya yang bagus tapi isinya acak-acakan? Mau jadi apa?

Karena sayangnya teman-teman saya sepertinya clueless kalau tidak saya pantau, sehingga sering saya tegor, “eh…ini kan bidang kalian, gue kan nggak sejago kalian dong seharusnya disini…”. Dan saya tetap dijebloskan ke dalam dunia business development. Ya sudah saya jalankan dulu, tanpa melepas jabatan saya sebagai head Industrial Design disana (hasil dari bargain saya ke boss saya itu).

Dan ternyata perang badar saya tetap berlanjut di sana, karena “hello!” (mengambil istilah pacar saya kalau kesal ke client) kok business development begini isi meetingnya. Dan mulailah saya menstruktur pola kerja dan pola pencarian proyek kantor. Apa maksudnya? Saya harus membuat base cara Dedato melihat peluang, dengan cara mengukur kemampuan diri mereka sendiri. Bagaiman bisa mengambil suatu proyek tanpa melihat kesangupan diri sendiri, baik dari segi kemampuan mengerjakan proyek, traffic, dan kemampuan ilmu sendiri. Bukannya menyerah atas dasar kemampuan mendesain, tapi lebih kearah kesiapan mental, dan loading perkerjaan perkomponen kerja. Dan mulailah saya marah-marah kembali dikantor saya ini.

Dan kalau marah saya tidak peduli kalau yang saya marahin itu siapa, mau senior, mau teman seangkatan, sampai owner perusahaan pun kalau perlu saya “marahin”, dan ini pernah terjadi saya memarahi owner saya, mentor saya sebenarnya, selama dua jam, setelah saya tarik ke taman belakang kantor, waktu jam kerja hehehehe. Karena saya ketika baru masuk ditanya “Put kamu orangnya bagaimana sebenarnya?” oleh boss saya itu, Pak Taufik, yang saya langsung jawab…”kalau saya salah, dan benar-benar salah, saya pasti akan mengaku dan menerima. Tapi kalau saya benar, tapi dianggap salah, saya akan tidak terima”. Jadi saya merasa lumrah kalau saya bisa marah kedia, atau siapapun, kalau saya memang benar.

Belagu? Mungkin…nah ini juga alasan kedua dari mengapa di awal tulisan ini saya menaruh almamater saya sebagai kambing hitam di keputusan saya untuk ber-freelance ria. Karena saya tidak takut untuk berdebat, bukan kusir tentunya. Karena buat saya, kampus saya itu tidak terlalu berguna dalam mengasah kemampuan desain saya (dan mungkin juga kalian yang merasa jebolan kampus ini), tapi kemampuan untuk beragumentasi, yang didasari fakta/data penguat itulah yang saya rasakan guna dari berkuliah di ITB dulu.

Dan pelajaran ini tidaklah saya terima dari dosen-dosen saya, tapi dari kawan-kawan seperjuangan saya di studio, senior-senior yang kritis, ketika mereka menjadi asisten mahasiswa studio saya, salah satunya Aso dan Tita. Karena yang paling mengerikan ketika saya mepresntasikan tugas di studio saya dulu, bukan pendapat dosen yang saya takuti, tapi “serangan” pertanyaan-bantahan dari kawan-kawan saya lah yang saya takuti. Dan ujung-ujungnya saya serang balik ketika mereka presentasi, sekali lagi serangan yang bukan sifatnya penuh dendam dan berujung ke debat kusir tentunya.

Dan karena biasa beragumen sejak kuliah, akhirnya terbawa hingga berkerja, sampai-sampai boss saya sempat keluar dari ruangannya karena tidak tahan berdebat tentang desain dengan saya dan Reza, head divisi grafis waktu itu (yang merupakan partner mendebat ketidak beresan kantor). Dan ini juga menjadi alasan saya untuk, ayo, ini (sudah) waktunya keluar dari sini, dan kayaknya kamu bisa survive dengan diri kamu sendiri, sampai kamu menemukan pelabuhan baru lagi.

Dan setelah akhirnya mengambil jatah cuti saya, untuk “kabur”dari kesemerawutan di kantor, ke Koto Gadang, Sumatra Barat, karena saya tidak pernah mengambil jatah cuti sekalipun selama 5 tahun disana, saya semakin bulat bertekad, ini sudah waktunya, dan bayi yang saya lahirkan sekarang (divisi saya ini) sudah bisa berjalan, walaupun masih tertatih-tatih.

Dan keluarlah saya dari sana…

Tapi saya tetap mengangap seorang Taufik Ibrahim sebagai mentor saya, karena dari awal ia menerima saya dia bertanya, disela-sela makan siang, seminggu setelah saya berkerja di Dedato “Kamu dua tahun lagi mau ngapain?” dan saya jawab, “saya mau punya Dedato saya sendiri…pak”

“ok nanti saya bantu kamu…”

Dan saya belajar mencintai desain sepenuh hati bersamanya.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Konsep

Agustus 25, 2008 at 11:56 am (Concept)

Definisi, Prinsip Dan Istilah Desain Komunikasi Visual

Definisi
Desain Komunikasi Visual adalah ilmu yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media untuk menyampaikan pesan dan gagasan secara visual, termasuk audio dengan mengolah elemen desain grafis berupa bentuk gambar, huruf dan warna, serta tata letaknya, sehingga pesan dan gagasan dapat diterima oleh sasarannya.

Prinsip
Pesan visual harus kreatif (asli, inovatif dan lancar), komunikatif, efisien dan efektif, sekaligus indah/estetis.

Instilah
1. Seni Grafis / Graphic Arts, termasuk ke dalam kelompok bidang ilmu Seni Murni.
2. Grafis / Graphic, adalah hal yang berkaitan dengan tulisan atau gambar yang mengandung makna untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi.
3. Desain Grafis / Graphic Design, istilah yang dipakai sebelum menggunakan istilah Desain Komunikasi Visual, berasal dari kata bahasa Yunani “Graphos” yang berarti “tulisan/gambar”.
Untuk mengantisipasi perkembangan dunia komunikasi visual serta perannya yang semakin luas, maka digunakan istilah: Desain Komunikasi Visual.

Perlunya Pendidikan Desain Komunikasi Visual
1. Mengenal konsep Desain Komunikasi Visual sebagai Dasar Perancangan/Desain dan Strategi Komunikasi.
2. Mengenal Desain Grafis (Desain Komunikasi Visual) dan Bahasa Rupa sebagai Pengolah Visual Data Informasi.
3. Mengenal secara teknis prinsip, proses teknologi informatika dan sistem informasi manajemen.
4. Memahami elemen desain grafis sebagai alat penyampai pesan yang efektif, efisien, komunikatif dan estetis kreatif dalam konteks konsep-policy/planning/ strategy dan implementasi serta evaluasi.
5. Memahami strategi komunikasi, psikologi dan sosial/ antropologi budaya.
6. Memahami beberapa media baru, terutama dunia media / ruang cyber serta tekniknya, yaitu:
a. Animasi – Audio Visual (Mix Media)
b. Interaktif media dan web/website yang biasa dipergunakan untuk melengkapi E-media dan Mixmedia/Multimedia.
7. Menguasai konsep perancangan / desain komunikasi visual dan pemasaran global secara universal.Menguasai proses dan tehnik perancangan /desain yang dapat mengantisipasi perkembangan dunia kewirausahaan/enterprenuership.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Apa itu Desain Grafis?

Agustus 23, 2008 at 5:16 pm (Concept)

Karya Seni identik dengan suatu yang unik. Oleh karenanya seorang seniman dalam melahirkan karyanya selalu mencari bentuk, bentuk baru. Untuk itu diperlukan sesuatu yang unik. Ini berarti sesuatu yang belum pernah atau mungkin jarang dipakai oleh seniman lain pada karya-karya sebelumnya.

Definisi Desain Grafis: adalah salah satu bentuk seni lukis (gambar) terapan yang memberikan kebebasan kepada sang desainer (perancang) untuk memilih, menciptakan, atau mengatur elemen rupa seperti ilustrasi, foto, tulisan, dan garis di atas suatu permukaan dengan tujuan untuk diproduksi dan dikomunikasikan sebagai sebuah pesan. Gambar maupun tanda yang digunakan bisa berupa tipografi atau media lainnya seperti gambar atau fotografi.Desain grafis umumnya diterapkan dalam dunia periklanan, packaging, perfilman, dan lain-lain.

Desain Grafis

juga merupakan ilmu yang mempelajari tentang media untuk menyampaikan informasi, ide, konsep, ajakan dan sebagainya kepada khalayak dengan menggunakan bahasa visual. Baik itu berupa tulisan, foto, ilustrasi dan lain sebagainya. Desain grafis adalah solusi komunikasi yang menjembatani antara pemberi informasi dengan publik, baik secara perseorangan, kelompok, lembaga maupun masyarakat secara luas yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi visual.Sebagaimana layaknya informasi yang disampaikan menggunakan bahasa lisan (suara) yang dapat disampaikan secara tegas, ceria, keras, lembut, penuh gurauan, formal, dan sebagainya dengan menggunakan gaya bahasa dan volume suara yang sesuai, Desain grafis juga dapat melakukan hal serupa. Kita dapat merasakan sendiri setelah membaca sebuah berita (tulisan), melihat foto atau ilustrasi, melihat permainan warna dan bentuk dari sebuah karya design yang berbentuk publikasi cetak, nuansa yang ditimbulkannya. Apakah informasi itu tegas, formal, bergurau, lembut, anggun, elegan dan sebagainya.

Kenapa kita dapat merasakan hal itu? Kenapa obyek publikasi itu bisa menimbulkan kesan dan pesan sesuai dengan yang ingin disampaikan hingga dimengerti oleh kita sebagai pembaca? Jawabannya adalah karena adanya unsur-unsur design dan prinsip-prinsip design yang ada dalam sebuah karya design tersebut, baik disadari maupun tidak disadari oleh pembuatnya.

 

 

 

 

Ada beberapa tokoh menyatakan pendapatnya tentang desain grafis :

Menurut Suyanto desain grafis didefinisikan sebagai ” aplikasi dari keterampilan seni dan komunikasi untuk kebutuhan bisnis dan industri”. Aplikasi-aplikasi ini dapat meliputi periklanan dan penjualan produk, menciptakan identitas visual untuk institusi, produk dan perusahaan, dan lingkungan grafis, desain informasi, dan secara visual menyempurnakan pesan dalam publikasi.

Sedangkan Jessica Helfand dalam situs http://www.aiga.com/ mendefinisikan desain grafis sebagai kombinasi kompleks kata-kata dan gambar, angka-angka dan grafik, foto-foto dan ilustrasi yang membutuhkan pemikiran khusus dari seorang individu yang bisa menggabungkan elemen-eleman ini, sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu yang khusus, sangat berguna, mengejutkan atau subversif atau sesuatu yang mudah diingat.

Menurut Danton Sihombing desain grafis mempekerjakan berbagai elemen seperti marka, simbol, uraian verbal yang divisualisasikan lewat tipografi dan gambar baik dengan teknik fotografi ataupun ilustrasi. Elemen-elemen tersebut diterapkan dalam dua fungsi, sebagai perangkat visual dan perangkat komunikasi.

Menurut Michael Kroeger visual communication (komunikasi visual) adalah latihan teori dan konsep-konsep melalui terma-terma visual dengan menggunakan warna, bentuk, garis dan penjajaran (juxtaposition).

Warren dalam Suyanto memaknai desain grafis sebagai suatu terjemahan dari ide dan tempat ke dalam beberapa jenis urutan yang struktural dan visual.

Sedangkan Blanchard mendefinisikan desain grafis sebagai suatu seni komunikatif yang berhubungan dengan industri, seni dan proses dalam menghasilkan gambaran visual pada segala permukaan

Kategori Desain Grafis

Secara garis besar, desain grafis dibedakan menjadi beberapa kategori:

  1. Printing (Percetakan) yang memuat desain buku, majalah, poster, booklet, leaflet, flyer, pamflet, periklanan, dan publikasi lain yang sejenis.
  2. Web Desain: desain untuk halaman web.
  3. Film termasuk CD, DVD, CD multimedia untuk promosi.
  4. Identifikasi (Logo), EGD (Environmental Graphic Design) : merupakan desain professional yang mencakup desain grafis, desain arsitek, desain industri, dan arsitek taman.
  5. Desain Produk, Pemaketan dan sejenisnya.

Bidang Komunikasi Grafis

Komunikasi Grafis merupakan bidang profesi yang berkembang sangat pesat sejak Revolusi Industri (abad ke-19) disaat informasi melalui media cetak makin luas digunakan dalam perdagangan (iklan, kemasan), penerbitan (koran, buku, majalah) dan informasi seni budaya. Perkembangan bidang ini erat hubungannya dengan meningkatnya kesadaran akan manfaat yang dapat dipetik dari keakuratan penyampaian informasi pada masyarakat.

Perkembangan di atas juga dipacu oleh kesadaran yang makin tinggi pada efektivitas bahasa rupa (visual) dalam komunikasi masa kini. Bila pada awal munculnya mesin cetak abad ke-15 istilah bidang ini adalah“graphic arts” yang masih dikonotasikan dengan seni, maka abad ke-20 istilahnya menjadi “graphic communication” atau juga “visual communication”. Hal ini menggambarkan peranan komunikasi sebagai

kunci profesi dalam bidang ini.

Saat ini peranan komunikasi yang diemban makin beragam: informasi umum (information graphics, signage), pendidikan (materi pelajaran dan ilmu pengetahuan, pelajaran interaktif pendidikan khusus), persuasi (periklanan, promosi, kampanye sosial) dan pemantapan identitas (logo, corporate identity, branding). Munculnya istilah “komunikasi visual” sebenarnya juga merupakan akibat dari makin meluasnya media yang dicakup dalam bidang komunikasi lewat bahasa rupa ini: percetakan / grafika, filem dan video, televisi, web design dan CD interaktif.

Perkembangan itu telah membuat bidang ini menjadi kegiatan bisnis yang sekarang sangat marak melibatkan modal besar dan banyak tenaga kerja. Kecepatan perkembangannya pun berlomba dengan kesiapan tenaga penunjang pada profesi ini. Karena itu perlu disiapkan suatu standar yang dapat jadi acuan bagi tenaga kerja dalam profesi ini, baik dalam posisinya dalam jenjang ketenagakerjaan maupun dalam perencanaan pendidikan penunjangnya.

Standardisasi yang saat ini dibuat tak mungkin menahan laju perkembangan bidang Komunikasi Grafis. Tetapi dengan melihat apa yang telah terjadi baik di negeri orang maupun di negeri sendiri, diharapkan usaha membuat acuan dapat mengantisipasi cukup panjang menghadapi perkembangan bidang ini.

Komunikasi Grafis dan Komunikasi Visual

Istilah yg diberikan oleh Dikmenjur setelah berkonsultasi dengan Ditjen Grafika. Kata Grafis sendiri mengandung dua pengertian:

(1) Graphein (lt.= garis, marka) yang kemudian menjadi Graphic Arts atau Komunikasi Grafis,

(2) Graphishe Vakken (bld=pekerjaan cetak) yang di Indonesia menjadi Grafika, diartikan sebagai percetakan.

Dalam pengertian ini Komunikasi Grafis adalah pekerjaan dalam bidang komunikasi visual yang berhubungan dengan grafika (cetakan) dan/atau pada bidang dua dimensi dan statis (tidak bergerak dan bukan time-based images).

Dasar terminologi perlu untuk menjelaskan beda antara Komunikasi Grafis dengan Komunikasi Visual.

Komunikasi visual merupakan payung dari berbagai kegiatan komunikasi yang menggunakan unsur rupa (visual) pada berbagai media: percetakan / grafika, luar ruang (marka grafis, papan reklame), televisi, film/video, internet dll, dua dimensi maupun tiga dimensi, baik yang statis maupun bergerak (time based).

Sedangkan Komunikasi Grafis merupakan bagian dari Komunikasi Visual dalam lingkup statis, dua dimensi, dan umumnya berhubungan dengan percetakan / grafika. Dalam lingkup terminologi ini standar kompetensi Komunikasi Grafis dibuat.

Bidang profesi Komunikasi Grafis meliputi kegiatan penunjang dalam kegiatan penerbitan (publishing house), media massa cetak koran dan majalah, periklanan (advertising), dan biro grafis (graphic house, graphic boutique, production house). Selain itu komunikasi grafis juga menjadi penunjang pada industri non-komunikasi (lembaga swasta / pemerintah, pariwisata, hotel, pabrik / manufaktur, usaha dagang) sebagai inhouse graphics di departemen promosi ataupun tenaga grafis pada departemen public relation perusahaan.

Pekerjaan Komunikasi Grafis meliputi olah gambar/images (gambar ilustrasi, fotografi), olah teks/tipografi (cipta dan susun huruf) dan penggabungan unsur teks dan images ke dalam rancangan/design yang siap dilaksanakan. Dalam kenyataan di lapangan, situasi kegiatan komunikasi grafis di Indonesia tak sepenuhnya seperti diagram umum di atas. Olah huruf / type design & typography yang di beberapa negara maju merupakan profesi khusus ( mendesain font / typeface, hand lettering, tipografi / olahan tata huruf ) di Indonesia tak berkembang menjadi bidang profesi tersendiri (pernyataan Bp. Danton Sihombing MFA pakar bidang huruf). Di Indonesia olah huruf pada era digital dikerjakan sendiri di komputer oleh desainer ataupun operator atas petunjuk desainer. Meski ada juga yang olah huruf khusus seperti hand lettering dan Kaligrafi tidak merupakan bidang

spesialisasi profesi yang berkembang baik. Karena itu dalam standar kompetensi komunikasi grafis ini olah huruf/tipografi tak dibuat sebagai sub-bidang kompetensi tersendiri, tetapi menjadi subkompetensi untuk sub bidang desain grafis.

bidang Komunikasi Grafis dipilah menjadi 3 sub-bidang:

  1. Desain Grafis: merancang / menyusun bahan (huruf, gambar dan unsur grafis lain) menjadi informasi visual pada media (cetak) yang dimengerti publik
  2. Ilustrasi: menampilkan informasi dengan ketrampilan gambar tangan dan penuangan daya imajinasi.
  3. Fotografi: menampilkan informasi dengan ketrampilan menangkap cahaya melalui kamera dankepiawaian memilih / mengolah hasil bidikan.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Disain grafis

Agustus 23, 2008 at 5:07 pm (Sample Design)

 

 

 

 

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Arsitektur, Sebuah Langkah Kreatif dan Inovatif

Agustus 23, 2008 at 4:10 pm (Concept)

Arsitek selalu membuat “kejutan” baru dalam menciptakan karya-karya mereka. Eksplorasi mereka terhadap bentuk massa, struktur, dan proporsi, didukung oleh desain yang inovatif serta teknologi canggih semua difokuskan dalam menghasilkan suatu karya baru. Dalam mencapai sebuah langkah kreatif eksplorasi terhadap desain seolah-olah tidak ada batasnya. Bagi Ridwan Kamil, seorang arsitek urban yang tengah mengeksplorasi desain-desain spektaktuler, desain yang spontan dapat terwujud lebih unik dibandingkan dengan desain awal. Pada desain rumahnya di Bandung Utara dia mewujudkan ide yang ekspresif dan kreatif lewat bahasa arsitektur dengan balutan estetika dan desain yang berfungsi. Bagi Emil, demikian sapaan sehari-harinya, mendesain adalah ibarat melakukan sebuah ibadah. Dia mengerti betul aturan-aturan yang perlu dipatuhi dan aturan yang masih fleksibel sehingga dapat menciptakan suatu bahasa arsitektur dan bahasa interior yang unik pada setiap rancangannya. Kali ini Emil berkesempatan untuk merancang rumahnya sendiri dengan menggabungkan pengalaman kerja, pengetahuan serta impiannya untuk menciptakan sebuah hunian modern yang menghadirkan ”semangat” desain dalam konteks kehidupan modern. Secondary Skin yang fenomenal Banyak ide yang ingin diwujudkan ketika mendesain rumahnya. Dia membalut bangunan dengan kulit eksternal (secondary skin) sebagai upaya untuk menyamarkan dinding rumah utama yang sebagian besar terbuka dengan kaca setinggi plafon. Sang arsitek menerangkan bahwa secondary skin ini bagaikan sebuah bidang, tirai, partisi, jendela dan juga penghalang terhadap terik panas matahari di siang hari. Kulit ini tidak hanya terlihat unik tetapi juga fungsional. Uniknya struktur kerangka kulit luar ini dipadukan dengan bahan yang tidak lazim digunakan pada rumah, yaitu botol-botol bekas yang jumlahnya mencapai 30 ribu buah. Botol-botol bekas tersebut ditempelkan dan disusun satu sama lain untuk menghasilkan bidang-bidang partisi yang semi transparan. Botol bekas yang dipilih adalah botol kratingdaeng yang berukuran sedang dan berwarna oranye sehingga menghasilkan pencahayaan yang nyaman dan alami ketika ditimpa matahari. Efek cahaya tersebut sesuai dengan tema warna yang diterapkan pada interior rumahnya yaitu warna cokelat kayu. Emil mengatakan bahwa pemakaian secondary skin mempunyai falsafah tertentu seperti yang pernah dikemukakan oleh arsitek Budi Pradono dalam rancangan beberapa bangunannya yaitu mengangkat citra tradisional dalam bahasa modern. Jika diperhatikan secara teliti struktur kerangka secondary skin merupakan paduan unsur modern dengan unsur tradisional yaitu botol-botol bekas tadi. Pada resto Kayumanis yang dikerjakan oleh Budi Pradono, efek yang dihasilkan melalui struktur secondary skin ini memunculkan efek “dramatis” ketika bersinggungan dengan cahaya matahari. Suasana terlihat “hangat” dan nyaman. Tekstur, Warna dan Unsur Melayang Rumah ini berdiri di atas lahan yang berbentuk trapesium, sehingga orientasi desainnya harus disesuaikan dengan kondisi lahan. Bentuk massa utama berbentuk huruf “U” dengan bagian depan rumah menyerong ke arah jalan sehingga menjadikan tata letak interiornya terpisah-pisah. Namun Emil tetap mengomposisikan ruangan agar terbuka satu sama lain melalui permainan efek tembus pandang dan dominasi garis kisi-kisi pada interiornya. Di sini diterapkan permainan struktur split level dengan komposisi dua lantai di massa bagian depan dan komposisi tiga lantai di massa bagian belakang. Kedua massa ini mengapit sebuah inner-court yang difungsikan sebagai area buffer sekaligus sebagai tempat relaksasi. Mengingat area ini sering dipergunakan sebagai tempat berkumpul keluarga ataupun tempat pengajian maka ruang luar ini menjadi perluasan dari ruang dalam. Setiap ruangan saling berhubungan dengan ruangan di sebelahnya. Misalnya ruangan tamu di depan terhubung langsung dengan ruangan keluarga tetapi dipisahkan dengan perbedaan lantai. Disisi lain, pada partisi yang melatarbelakangi rak TV dibuat celah horizontal sehingga dapat terlihat aktivitas di ruang musala. Secara menyeluruh, interior dalam dibuat nyaman dengan aksen warna yang dominan. Contohnya terdapat ruangan keluarga yang elegan dengan mebel dan aksesori interior yang menawan. Sebuah sofa egg chair berwarna merah menjadi aksen yang turut menyemarakkan ruangan ini. Emil mengatakan bahwa aksen ini dibuat untuk menampilkan pusat perhatian pada ruangan. Dari ruangan ini terdapat akses ke arah inner courtyard melalui pintu kaca geser. Bukaan seperti ini berfungsi untuk melancarkan sirkulasi udara dan juga melancarkan cahaya matahari masuk ke dalam rumah sehingga rumah terasa sejuk dan terang. Pemakaian cat untuk tembok sengaja dibuat minim. Sebagai penggantinya dipakai material bertekstur seperti batu alam, wallpaper, panel kayu, kisi-kisi besi dan beberapa bahan lainnya yang memenuhi bidang-bidang interiornya. Berbagai material dipadukan seperti batu andesit untuk pelapis lantai dan pelapis dinding yang di beri coakan garis-garis sehingga terlihat unik. Detail-detail ini banyak yang diubah oleh Emil saat pelaksanaan tahapan konstruksi, sehingga tercapai suasana dan efek yang diinginkan. Detail lain yang turut diperhatikan oleh Emil adalah ”efek melayang” yang diterapkan pada sebagian besar furnitur di dalam rumah. Contohnya meja dapur island berwarna putih yang mempunyai kaki meja yang ditempatkan pada bagian tengah dalam sehingga tidak terlihat dan menimbulkan efek melayang. Begitu pula dengan penggunaan beton yang membingkai sebuah chaise longe berwarna merah di area courtyard. Di sini struktur betonnya ditopang oleh kaki beton yang dibuat lebih ramping dan lebih kecil sehingga tercipta efek melayang pada struktur beton tadi. Dengan pencahayaan dari lampu yang tersembunyi, efek visual melayang lebih terlihat terutama menjelang malam hari. Secara keseluruhan semua elemen yang diciptakan berpadu harmonis penuh permainan garis horizontal dan vertikal, serta mempunyai nilai ramah lingkungan karena menggunakan botol-botol bekas sebagai elemen arsitekturnya. Desain hunian ini diupayakan arsiteknya merespons perubahan cuaca dan sekaligus menyuguhkan “permainan” massa bangunan yang dinamis melalui konsep susunan bidang penyekat (layering the bounderies). Gagasan desain ini bertitik tolak dari keinginan pemilik rumah untuk memiliki hunian modern dan natural yang berbeda dari rumah tinggal pada umumnya di Surabaya, Jawa Timur. Dilihat dari kondisinya, lahan yang memanjang ke belakang seluas 875 m2 ini berada di huk / persimpangan jalan dan satu sisi panjangnya menghadap ke arah timur sehingga rentan terkena silau cahaya matahari. Untuk merespons kondisi ini, pemilik memberi kebebasan merancang kepada tim konsultan arsitektur dan interior R+DA bersama dengan tim pelaksana interior dari SunFlower. Sebagai ide awal, arsitek Darnan dari R+DA mengusulkan wujud hunian beratap datar yang merupakan terobosan baru di kompleks ini. Ide atap datar ini didukung oleh pengolahan bukaan dan bidang penyekat pada massa bangunan. Konsep ini terbukti dapat mengantisipasi perubahan iklim dengan estetika yang bernilai seni tinggi. Konsep Arsitektur Pada tahap awal, arsitek merancang massa bangunan dua lantai berbentuk huruf U dengan halaman dalam (courtyard) di bagian tengahnya. Di lihat dari bentuk kaveling, halaman dalam yang diolah menjadi kolam renang dan taman ini menempati pojok belakang lahan sehingga dapat menjaga privasi pemilik saat berenang sekaligus mengoptimalkan pengudaraan silang dalam bangunan. Arsitek juga menerapkan prinsip bangunan tropis yaitu hampir setiap sisi hunian memiliki bukaan luas agar dapat mengoptimalkan masuknya cahaya matahari dan pandangan ke arah luar. Komposisi solid dan void pada massa bangunan ini juga diimbangi oleh ini “permainan” dinamis antara tiang-tiang bangunan yang vertikal dan bidang-bidang horizontal dari atap datar, teritis dan kanopi. Selanjutnya, massa bangunan utama sengaja dibedakan dengan massa bangunan servis dengan cara menegaskan posisi entrance dan selasar untuk sirkulasi dalam hunian persis di tengah kedua massa bangunan. Dengan massa bangunan yang demikian besar, arsitek merancang elemen-elemen pengikat yang berfungsi menyatukan dan mengimbangi secara visual (mass interconnection). Contohnya, sebuah kanopi panjang menyatukan garasi, pintu masuk hingga teras bagian depan sedangkan satu bidang vertikal berlapis batu andesit di bagian belakang rumah mengimbangi void tinggi transparan di pojok depan / huk rumah. Desain ini berhasil menciptakan karakter khas fasada hunian bergaya tropis modern yang didukung oleh aplikasi material dan teknologi yang canggih. Yang paling unik dari arsitektur rumah ini adalah konsep susunan bidang penyekat / layering the bounderies yang merupakan respons desain bangunan terhadap perubahan cuaca. Prinsipnya, arsitek menyusun beberapa lapis (layer) bidang penyekat transparan (screen) pada sisi luar bukaan luas untuk menangkis panas matahari sekaligus menghalangi pandangan orang dari arah luar ke dalam hunian. Contohnya terlihat pada susunan empat bidang penyekat yang berada persis di luar ruang duduk keluarga di lantai dasar. Penyekat pertama berupa bilah-bilah perunggu yang diolah membentuk motif ombak pada satu bidang vertikal sedangkan penyekat kedua berupa deretan beberapa pohon phoenix yang tajuk daunnya berbentuk kipas. Penyekat ketiga berupa pagar batas kaveling dan penyekat terakhir adalah pohon-pohon di lahan kompleks. Arsitek juga merancang bidang penyekat dalam wujud lain yaitu deretan batang kayu dan kerangka baja yang menyekat selasar lantai atas dan menaungi dek seputar kolam renang. Arsitek juga membuat area transisi (penyangga) yang berfungsi menurunkan temperatur ruang yang berada di sisi barat lahan misalnya berupa ruang tangga sempit di area servis dan area walk in wardrobe di kamar anak. Selain itu, bidang dek atap rumah dibuat dobel sehingga terbentuk celah yang dapat mengalirkan udara ke dalam hunian. Konsep Interior Untuk bagian dalam rumah, arsitek berupaya membuat susunan / layout ruang yang dapat mengamodasi kebiasaan penghuni. Prinsip pertama adalah area publik seperti foyer dan ruang tamu dipisahkan dari area privat sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari penghuni. Sebagai wujudnya, foyer dirancang menjadi bagian awal dari selasar dalam rumah sedangkan area penerima tamu dikelilingi oleh jendela dan pintu kaca yang lebar sehingga memberi kesan ruang dalam yang “merangkul” lingkungan sekitarnya. Prinsip kedua adalah ruang duduk, ruang makan dan dapur menjadi “jantung” rumah ini tempat penghuni kerap melakukan aktivitas bersama. Karena itu, area kumpul bersama didesain terbuka tanpa dinding penyekat, dikelilingi oleh deretan jendela-pintu kaca yang berorientasi menghadap ke arah kolam renang dan taman di lantai bawah. Dengan demikian, penghuni mudah melihat ke berbagai sudut rumah termasuk pemandangan segar ke arah luar. Kusen jendela terbuat dari bahan aluminium khusus (PVC-U) dengan seal penuh sedangkan kacanya (tempered glass) dibuat rangkap tiga agar dapat meredam bising kendaraan di jalan tol yang tidak jauh dari rumah. Prinsip ketiga adalah ruang kerja yang nyaman bagi pemillik rumah tempat sang Ibu mengerjakan desain perhiasan sedangkan sang ayah dapat membaca koleksi buku. Prinsip terakhir adalah mengombinasikan warna, tekstur dan motif yang dapat memberikan keceriaan di dalam rumah. Diantaranya, warna-warna earth tones seperti hitam, coklat, krem dan abu-abu, yang menonjolkan motif alami dari serat kayu dan batu alam yang digunakan. Tekstur material yang digunakan cenderung tidak mengkilap / matt seperti lantai ruang tamu sengaja dilapisi oleh batu red cooper slate dengan permukaan honed doff agar menegaskan nuansa outdoor di ruang ini. Elemen ini dipadu dengan bahan aluminium yang memberi kesan modern pada hunian ini. Konsep Lanskap Pada dasarnya, tanaman dan ornamen luar rumah dirancang untuk menegaskan konsep arsitektur bangunan secara keseluruhan. Sebagai contoh, area kolam renang dan taman dalam diolah menjadi tempat olah raga dan tempat bersantai keluarga dalam suasana yang segar. Area ini dilengkapi oleh dek kayu, kursi, pohon frangipani, patung yang juga menjadi air mancur serta lampu sorot. Selain itu, teras ruang tamu dikelilingi oleh tanaman tropis seperti pandan Bali dan hiasan berupa gentong dan tempat duduk dari batu menhir. Secara keseluruhan, desain hunian ini berhasil mewujudkan keinginan pemilik dan keinginan arsiteknya. Sumber : griya-asri.com

Permalink 1 Komentar

Konsep Collective Action & Human Security

Agustus 21, 2008 at 1:56 pm (Concept) ()

Posted on by savindievoice

Konsep collective action secara akademis diperkenalkan pertama kali oleh Mancur Olson, seorang pengamat hubungan internasional dalam bukunya berjudul “The Logic of Collective Action” yang terbit tahun 1965. Analisis yang diajukan oleh Olson dalam bukunya yang kemudian diterbitkan kembali tahun 1971 ini membuka pemahaman kita akan berbagai kelebihan maupun kekurangan bentuk collective action. Olson menyadarkan kita bahwa memang ada saatnya kepentingan-kepentingan dari beberapa aktor bisa dirumuskan secara rasional untuk mencapai suatu common interest, dan memnag benar kekuatan dari kelompok semacam ini sangat signifikan. Tapi di sisi lain, keadaan ideal ini hanya tercipta dalam suatu situasi dan kondisi tertentu saja dan sangat tergantung pada faktor tertentu (jumlah aktor, insentif, dan unsur paksaan).

Suatu collective action timbul ketika adanya suatu usaha dari dua atau lebih suatu individu diperlukan untuk memperjuangkan suatu hasil yang diinginkan. Dalam pengertian global, konsep ini meluas menjadi sebuah global collective action. Apa yang mendasari terjadinya collective action ini? Seperti disebutkan di atas adanya suatu kebutuhan untuk merealisasikan kebutuhan bersama menjadi salah satu premis dasar di sini. Kebutuhan bersama ini yang sering disebut sebagai human security.

Human security sendiri dapat kita artikan sebagai timbulnya suatu paradigma baru dalam memahami bahwa bahaya bahaya global yang mungkin timbul sekarang bukan hanya dominasi negara dalam mengatasinya, tapi juga menjadi kewajiban seluruh umat manusia (people-centered view), masalah yang mungkin timbul juga bukan hanya didominasi dalam artian high politics, tapi juga masalah-masalah seperi kesehatan, kesejahteraan, kemiskinan, lingkungan, yang justru mendapat perhatian utama. Human security di sini sebagai sebuah konsep yang dipandang baru dan tidak berusaha untuk menggantikan konsep-konsep lama seperti human rights ataupun human developments, tapi berusaha memberikan pemahaman baru dan menambahkan artian dalam human rights.

Kembali pada masalah collective action di atas, yang menjadi penyebab awal secara historis adalah kegagalan pasar (market failures), dalam konsepsi “The Invisible Hand” Adam Smith yang mendasari semua kegiatan ekonomi liberal. The Invisible Hand, menekankan kebebasan individu untuk menghasilkan suatu efisiensi dan efektivitas serta pengurangan peran negara sekecil-kecilnya atau dengan kata lain menyerahkan semuanya kepada mekanisme pasar. Pasar dalam konsepsi invisible hands ini harus komplet, dalam artian bahwa barang-barang harus diperdagangkan secara kompetitif, artinya ada sejumlah produsen dan konsumen yang ada tanpa adanya salah satu pihak yang mampu mengontrol atau menentukan harga secara sepihak dan adanya kebebasan dalam memperoleh informasi pasar bagi semua pihak yang terlibat. Ada dua faktor yang mengakibatkan kegagalan pasar yaitu, uncompensated interdependencies dan informasi yang asimetris.

Dua faktor di atas menjadi sebab utama kegagalan pasar terutama dalam menyediakan kebutuhan pokok manusia (public goods). Hal ini juga terjadi dalam skala yang lebih besar, yaitu perdagangan antar negara. Collective action sering dihubungkan dengan ketetapan dari suatu public goods murni, yang non rival dan non excludeable. Atau dengan kata lain, untuk mendapatkan barang ini kita tidak perlu bersusah payah atau harus bersaing. Dalam konteks global kita juga mengenal istilah Global Public Goods (GPGs) yang meliputi banyak aspek dalam kehidupan global, terutama mengenai masalah-masalah yang melintasi batas-batas negara dan meliputi seluruh spectrum dari agenda sustainable development (pembangunan berkecukupan), mulai dari masalah lingkungan global, stabilitas keuangan internasional, efisiensi pasar, sampai pada masalah masalah kesehatan pengetahuan, dan hak hak asasi manusia.

Tapi public goods ini juga mempresentasikan masalah yang dihadapi oleh suatu collective action. Masalah utama terlihat pada premis utama yang mendasari penulisan artikel itu, yaitu rasionalitas individu tidak akan mencukupi bagi rasionalitas kolektif. Walaupun dalam teori-teori psikologis disebutkan bahwa jika rasionalitas individu dibawa dan digabungkan dalam suatu kelompok dengan lainnya maka rasionalitas individu akan ditekan serendah mungkin, dan yang muncul adalah
rasionalitas kelompok, tapi kita juga harus memperhitungkan juga bahwa aktor ini juga mempunyai rasionalitas sendiri yang mendasar kepentingan mereka dalam suatu collective action. Bahkan mungkin kepentingan yang dibawa itu sudah tertanam kuat dan tidak bisa ditawar lagi (vested interest).

Contohnya adalah fenomena free rider atau penumpang gratis yaitu dilema mereka yang berbuat licik, menumpang gratis pada pada barang barang kolektif tanpa,membayar ongkos yang sepadan. Walaupun dipandang kurang baik, tapi justru
tindakan ini adalah strategi yang paling rasional yang dilakukan oleh aktor aktor dalam situasi dimana mereka hanya punya sedikit pilihan. Ada juga sebagian pihak yang melihat fenomena ini dengan memakai prisoner dilemma.

Dalam konteks interaksi internasional, ada dua hal yang dilakukan suatu aktor global dalam menanggapi suatu fenomena internasional, bertindak atau diam saja. Tergantung dari lingkugan dan kepentingan. Beberapa pertimbangan yang mendasari
terjadinya suatu collective action: ukuran dari grup itu, komposisi, aturan yang mengatur interaksi, strategi, informasi yang mendasari partisipan, dan urutan interaksinya. Interaksi dalam kelompok itu dan hubungannya dengan prisoner dilemma yang mementingkan self-interest. Contoh: keterlibatan beberapa negara dalam memerangi terorisme dengan mendukung AS dalam perang di Afghanistan, reaksi global dalam mencegah penipisan lapisan ozon.

Kalau dilihat secara timeline, saya sulit mendapat data yang akurat mengenai kapan suatu collective action pertama terjadi, tapi dari beberapa sumber menyebutkan bahwa Zapatista Movement, pada January 1994, menjadi tonggak sejarah timbulnya suatu collective action berbasis masyarakat global, dan yang paling intens adalah gerakan melawan globalisasi ,yang ditandai dengan “Battle of Seattle” 1997, terjadi di hampir seluruh penjuru dunia akhir-akhir ini. Contoh diatas memperlihatkan bagaimana aktor-aktor global saling bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan tertentu.Tapi ada juga suatu tindakan dari
aktor hubungan internasional yang tidak bertindak apa-apa, atau global inaction.

Global inaction disebabkan beberapa faktor, antara lain, biaya yang harus ditanggung negara itu apabila mereka bertindak yang tentunya akan banyak merugikan daripada menguntungkan mereka, apalagi bila biaya yang harus dikeluarkan sangat besar, tidak adanya negara besar dalam suatu kawasan tertentu yang mampu menjadi leader atau penggerak suatu global action. Juga ketika suatu solusi yang efektif memerlukan peran dari banyak negara, serta suatu ketakutan bahwa global action itu nantinya akan memakan sebagian dari otonomi dan kedaulatan sebuah negara bila mereka terlibat didalamnya.

Dalam menciptakan suatu global action ini, ada beberapa faktor yang menjadi katalisatornya. Diantaranya adalah kemajuan teknologi informasi dan transportasi serta yang paling penting adalah globalisasi. Globalisasi di sini banyak mendapat
definisi yang buruk karena dianggap menjadi penyebab ketidakadilan global. Salah satu definisi yang saya ambil adalah globalisasi merupakan berkembangnya pengaruh dari pasar kapitalisme global atau berkembangnya pencapaian dari kepentingan kepentingan perusahaan dan finansial dalam tingkatan global.

Ada beberapa dampak negatif globalisasi ini yang sering dianalisis, diantaranya adalah :
1. Kinerja pasar yang akan “memakan” siapa saja yang kalah bermain dalam pasar global, terutama mereka yang kurang memiliki kemampuan dasar dan modal yang cukup.
2. Resiko kegagalan pasar yang cukup besar bagi mereka yang berada dalam posisi lemah dan kurang mempunyai bargaining position yang kuat.
3. Kekuatan – kekuatan ekonomi global yang mampu mempengaruhi decision making dalam suatu negara untuk menguntungkan mereka.

Itu semua adalah akibat yang bisa kita rasakan sekarang dari globalisasi. Bagaimanakah kita harus menanggapinya ? Jelas dalam suasana “Global Village” sekarang kita tidak mampu mengindari globalisasi. Yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana dengan suatu collective action akan mampu melindungi human security secara bersama-sama. Dan mau tidak mau kita harus melakukan suatu global action dalam suatu fenomena tertentu dan itu artinya mereka akan merelakan sebagian dari otonomi kita. Adanya suatu keadilan dalam negosiasi collective action juga harus mendapat perhatian utama, jangan sampai nanti terjadi dominasi dari beberapa negara tertentu yang menyebabkan kerugian pada pihak lain.

Referensi:
1. Wikipedia, The Free Encyclopedia, “http://en.wikipedia.org/wiki/Human_security”, access on March 12, 2006
2.  Robert A. Isaak, International Political Economic, diterjemahkan sebagai Ekonomi Politik Internasional, PT Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta
3. Rosalie Gardiner (UNED Forum) and Katell Le Goulven (UNDP), Sustaining Our Global Public Goods, A Briefing Paper World Summit 2002, Johannesburg.
4. Nancy Birdsall, Center for Global Development, Working Paper No. 12, October 2002
5. Mancur Olson, The Rise and Decline of Nations: Economic Growth, Stagflation, and Social Regidities, diterjemahkan sebagai Kebangkitan dan Kemerosotan Perkembangan Bangsa-Bangsa: Dari Pertumbuhan Ekonomi ke Stagflasi-Inflasi dan Kemandegan Sosial, CV Rajawali, Jakarta: 1986.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Berita Bantul

Agustus 21, 2008 at 1:43 pm (News) ()

RSS 2.0 Feed | Berita Lainnya

Kamis Legi, 21 Agt 2008 14:13 WIB | dibaca (10) | Komentar

Gratis, Operasi Pengangkatan Pen dan Plat Bagi Korban gempa

Gempa Bumi 2006 lalu banyak membawa korban meninggal dan cedera parah bagi masyarakat Bantul. Banyak dari mereka yang terpaksa harus operasi dan dipasangi pen atu plat di tubuh mereka guna membantu upaya pemulihan. Untuk itu Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul dalam waktu dekat akan mengadakan operasi pengangkatan pen dan plat bagi korban gempa 2006 lalu.

Demikian dikatakan Kadinas Kesehatan Bantul, dr.Siti Noor Zaenab, M.Kes, Kamis (21/8) usai acara Evaluasi Kadarsi di dukuh Gaduh, Patalan Jetis. Operasi ini akan dilaksanakan mulai bulan September di 11 rumah sakit yang ditunjuk. Untuk itu diminta masyarakat korban gempa yang pernah dipasangi pen dan plat bisa mendaftarkan diri ke puskesmas di masing-masing wilayahnya.

Mengenai biayanya masyarakat tidak usah khawatir karena semua akan digratiskan tanpa dipungut biaya. Padahal biaya kalau operasi bisa sekitar Rp. 4-5 juta. Semuanya akan ditanggung oleh APBD propinsi, ujar Siti Noor Zaenab.

Dalam minggu ini pihaknya melalui Puskesmas sudah mulai mencicil data para korban. Namun demikian pihaknya tetap akan mempersilahkan para korban yang belum terdaftar untuk menyusul. Tetap akan kita layani dan diharapkan semuanya akan sudah selesai bulan Oktober, katanya. Operasi ini terbuka untuk semua umur yang memang setelah dievaluasi dan diperiksa memang perlu diangkat pennya. (nurcholis)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

halaman sebelumnya · Next page »